twitter


Menghabiskan banyak waktu di depan tv rasanya sama saja menghabiskan energi baik pikiran maupun emosi jiwa. Benar saja, banyak sekali kasus di negara kita tercinta ini yang tiada habis-habisnya mulai dari pemilu gubernur jakarta, malaysia yang bikin ulah lagi, bayi-bayi tidak punya biaya yang memiliki penyakit serius, sd yang di segel sama pemilik lahan, dan yang tak akan pernah luput adalah korupsi yang selalu saja ada cerita baru, entahlah.

Selalu terlintas di pikiran, kalau saja semua masalah-masalah itu tidak ada lalu apa mungkin media massa menjadi vakum dan lenyap begitu saja. Kesimpulannya gampang, kehidupan ini selalu ada masalah dan tidak akan pernah berenti, akan selalu ada perkembangan-perkembang terbaru mengiringinya. Meskipun sudah tuntas pun akan selalu ada masalah baru lain, miris memang.

Tapi apakah bisa disebut indikator ketentraman kehidupan adalah tidak adanya berita-berita yang membuat penderitaan negara sendiri bisa dipertontonkan oleh rakyatnya? Tapi tidak bisa dipungkiri rakyatnya pun sangat ketergantungan terhadap semua itu dengan dibuktikan larisnya koran pagi ataupun program berita di tv yang tidak pernah ketinggalan untuk dilewatkan.

Jika kita menilik lagi lebih lanjut, semua kembali pada media massa yang sepatutnya memiliki rasa toleransi terhadap objek sehingga tidak adanya kerugian di salah satu pihak yang menimbulkan ketidakadilan bagi sesama manusia.

Rasa toleransi ini timbul apabila kita membayangkan ada di posisi seseorang. Namun itu hanya sekedar bayangan semata, tidak bisa dirasakan bagaimana kalau itu sedang kita alami dalam kehidupan nyata. Sehingga rasa toleransi itu selalu dekat dengan orang-orang yang mengalami hal serupa dengan apa yang kita alami, makanya tidak sedikit di saat kita sedang direndung masalah banyak yang menyimpan ceritanya agar tidak semakin membuat si penderita menjadi malu karena terpojokkan dan menjadi menusia paling sial. Maka dari itu masalah biasanya terkuak jika telah menemukan orang yang tertimpa masalah serupa, karena dapat membawa manfaat dapat saling sharing dan menemukan jalan keluar bersama.

Namun, sebagai sesama manusia ada baiknya kita juga dapat merasakan bagaimana diposisi orang tersebut tanpa harus mendramatisir. Inilah yang disebut toleransi, apabila itu ada dalam diri setiap manusia, akan terciptalah saling menjaga perasaan, mengerti keadaan, dan yang paling penting rasa manusiawi itu dapat membaur dalam keseharian. Indahnya bukan..

1 comments:

  1. Bagaimana pendapat anda tentang Ahmadiyah yang dianggap telah menghina Islam, seperti adanya fatwa MUI? Apakah umat Islam salah bila mengajak Ahmadiyah untuk kembali kepada Islam, bahkan dengan menggunakan kekerasan seperti di Cikuesik Banten?

Post a Comment