twitter


OSCE (Objective-Structured Clinical Examination) merupakan salah satu mata kuliah profesi apoteker UGM yang berbobot 1 SKS (hanya 1 sks ya, tapi horornya..) OSCE itu bukan seperti mata kuliah lain yang ada kuliahnya, tapi (harap sabar) ini adalah ujian praktek. Kalo di fakultas sebelah (read: FK), OSCE sudah dijadikan ujian nasional. Tapi kalo di Fakultas Farmasi, OSCE masuk sebagai ujian lokal saja (internal kampus maksudnya). Itupun tidak semua kampus ada OSCE nya (setau gue). Bakal sedih banget kalo nilainya sampe jelek, karena gak ada ujian ulang kayak comdis (siap-siap nangis setelah ujian).

OSCE itu bentuk ujiannya pos-pos. Dari masa ke masa jumlah posnya beda-beda tapi kurang lebih isi posnya sama aja. Sebelum hari H, biasanya ada pembekalan dulu dari dosen. Nah, ini sangat membantu sekali karena kita dikasih tau apa yang harus dilakukan, poin yang dimasukkan penilaian, bahkan ada contoh soalnya juga. Tapi siap-siap mencatat dengan secepat kilat ya, karena ppt pembekalan tidak boleh dicopy dan tidak boleh difoto juga slide nya.

Setelah pembekalan, bakal ada Try Out OSCE, tapi eh tapi pesertanya HANYA beberapa orang saja (T.T) jadi gak semua orang bisa ikut. Terus siapa aja yang ikut? Tergantung kebijakan kelas karena yang milih anak kelas. Kalo pas jaman gw yang ikut itu kan 7 orang, diantaranya harus ada yang pinter, medium, dan kurang, supaya bisa merepresentatif semua orang di kelas. Terus pemilihannya melalui voting kelas, satu orang harus milih 3, boleh kalo mau nulis dirinya sendiri. Mereka yang terpilih ikut Try Out harus siap menjelaskan ke teman-temannya. Baik itu tentang TKP per posnya seperti apa,  apa saja yang dilakukan, terus evaluasi kekurangan sebagai masukkan ke dosen untuk memperbaiki OSCE pada hari H nya.

Nah, sekarang gue akan bahas satu per satu tiap posnya. Sebelumnya, gue kasih tau dulu kalo tiap pos itu ada dosen dan laboran yang akan berperan sebagai pasien, dokter ataupun penilai. Ada 7 pos dan 1 pos istirahat, setiap pos diberi waktu 7 menit, jadi gunakan waktu 7 menit itu dengan sebaik-baiknya ya. Jika bel berbunyi, peserta geser ke pos setelahnya. Tiap pos ini ada pos transit untuk membaca resep selama 1 menit.
Yuk kita bahas satu per satu!

POS 1
Swamedikasi
Dapet resep di pos transit, tidak dijelaskan pasiennya sakit apa, tapi dari keluhan di resep kita bisa tau. Jangan mikir jauh-jauh penyakitnya apa, paling sekitaran yang diajarin di mata kuliah swamedikasi, seperti diare, konstipasi, batuk flu, sakit kepala, cacingan, kulit gatal, dll. Makanya sebelum itu kamu harus pelajari tentang panyakit-penyakit itu mulai dari gejala, obat dan terapi non farmakologi. Untuk obat, sudah disediakan di meja beberapa obat (berbeda indikasi) tinggal milih sesuai penyakitnya. Di pos ujian, sudah ada dosen (penilai) dan laboran (pasien), juga ada lembar PMR yang wajib diisi. Untuk lembar PMR ini adalah identitas, informasi pasien yang kita gali dan tindakan kita.

Hal yang perlu dilakukan :

1. Sikap profesional (salam, perkenalan,identitas)
2. Jebakan pertama : Tanya ke pasien yang sakit SIAPA
karena orang yang berperan sebagai pasien itu belum tentu pasien yang sebenarnya tapi bisa saja orang tua atau kerabat dari pasien.
3. Isi identitas pasien sesuai dengan format di PMR
4. Penggalian informasi :
- keluhan (beratnya, frekuensi, lamanya)
- kebiasaan pasien dan hal yang dilakukan sehingga timbul keluhan itu
- tindakan apa saja yang sudah dilakukan
- riwayat penyakit dan pengobatan
- alergi,
- dll.
Pokoknya pertanyaannya itu untuk meyakinkan apakah penyakit yang kamu simpulkan itu benar agar obat yang akan kamu berikan tepat. Selama bertanya, kamu harus sambil mencatat di lembar PMR. Gak usah lama wawancara, ingat masih ada konseling.
5. Pemilihan obat :
- tanya pasiennya, misal kalo anak-anak bisa menelan atau tidak
- lihat ED obat karena ada obat yang sudah ED, pilih obat yang TIDAK kadaluarsa ya!
- ada beberapa kekuatan sediaan, pilih yang dosisnya sesuai dengan umur pasien
- ada beberapa merk, tanya ke pasien mau pilih yang mana, kalo dia jawab terserah yaudah lu pilihin aja
- berikan obat dengan jumlah yang tepat (disesuaikan dengan lama terapi)
6. Pemberian informasi obat :
jelaskan dulu dari hasil penggalian informasi, pasien menderita penyakit apa. Nah, ini namanya diagnosa. Kalo untuk kasus swamedikasi, apoteker berhak menyimpulkan penyakit yang diderita pasien. Tapi kalo untuk kasus non-swamed, yang berhak melakukan diagnosa adalah dokter. Setelah pasiennya tau dia sakit apa, lalu dijelaskan informasi tentang obat seperti biasa. Udah tau lah ya, mulai dari indikasi, cara pakai obat, frekuensi, waktu pemberian, penyimpanan, dst. 
7. Konseling tentang non- farmakologi
Biasanya senjata paling pamungkas: makan yang bergizi, istirahat yang cukup, stop kebiasan pasien yang menyebabkan penyakit itu muncul. Nah, untuk pengobatan swamedikasi itu ada lamanya pengobatan (tiap penyakit beda-beda, baca di buku Handbook of Non-Prescriptions Drugs by Rosemary, et, all.). Kalau dalam beberapa hari itu tidak ada perbaikan maka berobat ke dokter.
8. Penutup (feedback, pertanyaan pasien jika ada, salam)


POS 2
Peracikan
Di pos transit kita dikasih resep obat dan sekaligus menghitung jumlah obat yang diambil. Kalkulator bawa sendiri kalo gak salah. Temen gw ada yang salah koma, hasil penimbangannya bisa jauh banget. Di pos ini ada dosen dan laboran sebagai penilai.
Perhatikan cara menimbang dan meracik, berikut hal yang perlu dilakukan :
1. Pilih bahan yang akan ditimbang. 
Untuk beberapa bahan sudah ada ditempel bobot bahan di kemasannya. Jadi, bahan yang kita timbang cuma 1 saja. Jebakan disini adalah ED bahan, perhatikan bahan yang diambil untuk ditimbang!
2. Persiapan menimbang kayak biasanya: dibersihkan dulu sisa-sisa bahan di timbangan bila ada (disediakan tissue) lalu disetarakan dengan menggeser sekrup timbangan ke kiri atau ke kanan. Bahan yang ditimbang di kiri, anak timbang di kanan (kidal sebaliknya). Timbangan kiri dan kanan diseimbangkan dulu dengan penara (posisi kertas/wadah ditaruh terlebih dahulu)
3. Timbangan ada 2 yaitu, timbangan miligram dan gram. Penggunaannya disesuaikan dengan berat yang ditimbang. Untuk berat < 1 gram gunakan timbangan miligram, jika lebih gunakan timbangan gram. Tidak boleh menimbang bahan yang beratnya kurang dari 50 mg, harus diencerkan terlebih dahulu.
4. Meracik. Bentuk sediaan yang diracik biasanya salep, kapsul, pulveres, suspensi, atau rekonstitusi. Pelajari cara meracik sediaan tersebut, terutama hal yang perlu diperhatikan dan urutan mencampur bahan.  Kalo gw dulu dapetnya sediaan salep, jadi bahan yang ditimbang adalah asam salisilat saja sedangkan basisnya sudah ada informasi beratnya. Hal yang perlu diperhatikan itu ketika menggerus asam salisilat harus dijenuhkan dulu dengan tetesan alkohol. Kerjakan basisnya di mortir lain, setelah digerus lalu dicampur dengan asam salisilat tadi sampai homogen. Lakukan dengan cepat dan rapi karena waktunya sangat terbatas. 
5. Menaruh di wadah, disini gak perlu dibuat etiket.
6. Bersihkan peralatan yang digunakan karena ini dinilai juga.

POS 3
Pelayanan resep
Di pos pelayanan resep ini yang harus diselesaikan adalah masalah interaksi obat pada resep. Ada dosen yang berperan sebagai dokter. Jadi titik berat disini adalah bagaimana kita sebagai apoteker dapat komunikasi dengan dokter terkait permasalahan pada resep. Nah disini sudah disediakan literatur DIH, DIF maupun MIMS. Hal yang perlu diperhatikan :
- potensi interaksi antar obat pada resep
- mekanisme interaksi
- cara komunikasi dengan dokter : diawali dengan perkenalan dulu, tetap komunikasi dengan sopan jangan terkesan menyalahkan.
- memberi usulan (disesuaikan dengan interaksinya apakah memungkinakan kalau hanya diberi jeda waktu saja atau harus diganti dengan obat lain)
Kalo gw dulu dapet resep obat simvastatin, gemfibrozil, dan obat2 DM. Kebetulan gw pernah dapet kasus ini di apotek tempat PKPA. Jadi, simvastatin sama gemfibrozil gak boleh diminum bersamaan. Penyelesaiannya adalah minum obat yang satu pagi sedangkan satunya lagi malam. Meskipun udah tau jawabannya, gw tetap cari interaksinya di literatur yang disediakan sebagai data lengkap untuk ngomong ke dokternya.
Nah, disini juga disediakan kertas untuk nyatet info yang kita dapet dari literatur. Oh iya, yang paling penting jangan sampai kamu kehabisan waktu untuk nyari di literatur tapi gak sempet ngomong ke dokternya. Karena yang dinilai itu pada saat kamu komunikasi dengan dokter.
Saran gw pelajari dulu interaksi obat yang sering banget terjadi, meskipun ada literatur tapi kan kamu udah ada bayangan mau dibawa kemana. Apalagi tau sendiri kan DIF itu in english, kadang sulit untuk memahami maksudnya. Syalalalaa

POS 4
Etiket dan copy resep
Disini akan ada dosen sebagai penilai. Hal yang kita lakukan adalah menulis copy resep berdasarkan resep dan obat yang tersedia. Hal yang perlu diperhatikan :
1. Pelajari det, det orig, dll.
Misal: diresep jumlah obatnya XXX disertai dengan iter 2x. Berarti kalo pasiennya ngambil 30 jadi –det orig- terus ambil lagi 30 (berarti total 60) jadi –det iter 1x- terus ambil lagi 30 (total ambil 90) jadi –det- Lain lagi kalo ambil 45 jadi det orig+15, dst.
2. Lihat obat yang disediakan. Jebakan disini adalah obat di resep beda dengan obat yang disediakan. Biasanya sih beda merk aja. Terus gimana? Boleh kalo merk di resep diganti ke merk lain yang gak sesuai resep atau ganti merk ke generik. Tinggal tulis -det (da nama obat yang lu kasih)- Nah kalo generik diganti ke branded? Ini sebenernya gak boleh, jadi kalo ga ada yang generik sesuai resep maka ga usah dikasih jadi ditulis -ne det- Tapi pas gw dulu itu sempet bingung juga, masa pasiennya gak dikasih obat, terus akhirnya gue kasih haha. Mana dosennya itu berperan sebagai penilai, jadi bingung juga kalo mau konfirmasi ke dokternya.

Setelah nulis copy resep, lanjut bikin etiket. Hal yang paling penting itu bisa membedakan etiket putih sama biru. Kalo putih untuk obat yang masuk melalui lambung (per oral) sedangkan biru untuk obat yang tidak melalui lambung misalnya pemberian lokal di kulit, melalui paru-paru, insulin, injeksi, dll. Di etiket informasi yang perlu dicantumkan meliputi : no.resep, tanggal, nama pasien, nama obat, frekuensi penggunaan obat, (berapa kali sehari), waktu minum obat (siang/malam, sesudah/sebelum makan), penyimpanan (terutama yang perlu suhu dingin, misalnya insulin) dan tanda tangan. Nah biasanya waktu minum obatnya tidak ada informasi di resep. Jadi, apoteker yang menentukan. Hoho. Makanya diinget lagi pemberian obat di apotek kapan aja waktu minum obatnya. Secara garis besar sih obat diminum setelah makan untuk mengurangi mual, mengurangi efek samping obat (NSAID menyebabkan nyeri lambung), atau memang mekanisme efek obatnya berefek setelah / saat makan (DM). Ada beberapa obat pula yang diminum sebelum makan seperti anti hipertensi, anti mual-muntah, lambung, dll.

Beri informasi tambahan apabila ada obat yang dianjurkan untuk diminum pada malam atau pagi hari. Misalnya : simvastatin (anti kolesterol) malam hari, glimepirid (anti DM) pagi hari, HCT (diuresis) pagi hari, dsb. Kemungkinan kamu akan ditanya oleh dosen kenapa obatnya sesudah/sebelum makan atau kenapa diminum malam/pagi hari. Tapi kamu gak perlu memberi PIO karena dosen disini berperan sebagai penilai saja bukan pasien/dokter.

POS 5
Monitoring Terapi Obat
Di pos ini, kamu diberikan kertas berisi narasi tentang pasiennya. Karena judulnya aja monitoring pasien maka fokus terhadap pengobatan yang diberikan kepada pasien. Lakukan persiapan sebelum hari H dengan mempelajari dulu penyakit yang memerlukan pengobatan dalam jangka panjang seperti : TBC, DM, hipertensi, dll. Saat membaca narasi langsung pikirkan apa yang mau dicari. Hal yang perlu dilakukan :
1. Gali informasi pasien, biasanya keperluan pasien datang ke apotek adalah untuk mengambil obat yang diresepkan. Maka minta waktu ke pasien untuk menggali informasi terkait monitoring pengobatan. Biasanya pasien hanya menjawab seperlunya saja, informasi yang sudah ada di narasi dapat ditanyakan kembali pada pasien. Disediakan literatur seperti MIMS dan ISO. Gue lupa apakah ada DIH dan DIH juga, kayaknya sih gak ada soalnya gue inget cuma pake literatur buat nyari efek samping dari masing-masing obat.
2. Disini kamu harus mengisi lembar monitoring.Terdapat kolom yang wajib diisi yaitu :
a) Efikasi - apakah obat memberikan efek sesuai indikasi? parameter normal nya seperti apa? misal hipertensi: cek tekanan darah, normalnya 120/80 atau TBC harus rajin cek ke puskesmas dan dikatakan normal ketika tes dahak hasilnya negatif kuman bakteri TBC. Ini tidak ada diliteratur sehingga kamu harus pelajari dulu sebelumnya.
b) Keamanan - bagaimana efek samping obat? cara mengatasi efek samping obat? keamanan obatnya? terutama untuk pasien kondisi khusus (hamil, menyusui, anak2, geriatri, dll). Ini bisa dilihat di MIMS atau ISO yang disediakan.
c) Parameter lain - kepatuhan pasien, cara penggunaan obat yang benar dan hal-hal yang tidak termasuk  2 poin diatas. misal: jarum insulin jangan disuntikan di tempat yang sama agar tidak terjadi penebalan lemak. Cara penggunaan obat termasuk lama pengobatan harus disampaikan juga, terutama TBC yang ada durasi pengobatan. Obat harus teratur diminum, tidak boleh berhenti. Kalo terlewat maka harus ngulang lagi pengobatannya dari awal. Gue sempet jelasin ke pasien minum obatnya sekaligus 4 tablet padahal bentuknya udah FDC (fix combination dose). Haha.

Hal yang paling penting disini adalah jangan kelamaan nyari info di literatur. Nanti waktunya gak cukup untuk menyampaikan info ke pasiennya. Padahal masuk penilaian juga. Jadi, kalo bisa info yang udah dapet langsung disampaikan aja ke pasien.

POS 6
Penyimpanan Obat

Di pos ini yang dinilai adalah bagaimana cara menyimpan obat dengan tata letak yang benar. Obat yang sudah disediakan dalam satu keranjang gitu kita pilih terlebih dahulu, mana yang layak dan tidak layak untuk dipajang di rak. Obat yang termasuk kategori tidak layak antara lain : sudah ED, kemasan rusak, dan ilegal (tidak ada nomor registrasi). Nah, obat ini ditaruh di keranjang khusus yang sudah di labeli sesuai dengan kategori ketidaklayakan obat tersebut.Setelah memisahkan obat yang tidak layak, maka mulailah kita menyusun obat sesuai dengan kaidah penyimpanan obat yang benar. Nanti disediakan rak tingkat yang diberi label. Kalo waktu gue OSCE, labelnya itu diantaranya : OTC, hormon, antihipertensi, anti DM, saraf, vitamin, dll. Kemudian lakukan hal sbb:
1. Mengelompokkan obat sesuai dengan label (indikasi) pada rak.
2. Urutkan bersarkan abjad (kiri ke kanan)
3. Kelompokkan berdasarkan bentuk sediaan. Nah, disini juga gw masih bingung, kalo bentuk sediaannya beda apakah harus beda rak? Soalnya raknya udah dilabeli sesuai indikasi. Hanya tersisa rak paling bawah tanpa label apapun, jadi gue pikir itu buat narok obat yang bentuk sediaannya beda. Tapi ya tetep dibedain yang obat keras dan OTC. Kalo di apotek sih gini urutan penyimpanan :
  • suhu penyimpanan
  • bentuk sediaan (padat, cair, semi padat  )
  • indikasi
  • huruf abjad
  • FEFO/FIFO
    Disini kamu disediakan form untuk mengisi apa saja obat yang tidak layak. Jangan lupa isi formnya karena masuk penilaian juga. 

POS 7
Penggunaan obat khusus
Pelajari semua obat khusus seperti handihaler, insulin, betadine vagina,  dll. Kumpulan obat khusus bisa dilihat di buku kapita selekta. Sebenernya kalo mau praktek langsung bisa ke lab farmaset aja, disitu ada beberapa sediaan khusus. Tapi kalo ga sempet, bisa belajar di youtube. Minimal ngeliat peragaannya, jadi langsung kebayang cara pakenya. Disini ada dosen sebagai penilai dan laboran sebagai pasien. Pasien datang nebus obat membawa resep yang berisi sediaan obat khusus. Udah lengkap aturan pakai nya juga. Setelah membaca resep, lakukan hal berikut :
1. Bersikap profesional seperti biasa (salam,perkenalan,penawaran bantuan)
2. Pastikan resepnya punya pasien itu
3. Menyiapkan obat 
4. Jelaskan tentang penggunaan obat mulai dari persiapan (cuci tangan), cara pakai (dipraktekkan langsung dengan sediaan khususnya),setelah pakai, sampai pencucian bila ada.
5. Beri info terkait aturan pakai obat sesuai dengan resep.
6. Konseling pasien mulai dari gali info (apakah merokok, dll), tentang terapi non-farkol, penggunaan obat yg teratur, sampai dengan penyimpanan obat.
7. Penutup yang paling penting adalah FEEDBACK
Minta pasien memperagakan cara penggunaan yg kita jelaskan tadi sekaligus mengulang info yg kita berikan. Kalo ada kesalahan, dibenerin aja.


ENG ING ENG
Dan akhirnyaaaa terselesaikan juga 7 pos ini yeaay! ^,^/
Pasti pada tambah mumet ya. Hahaha. Sebaiknya dibaca lagi setelah dapet pembekalan ya biar gak lupa.
Semua tips diatas ditulis berdasarkan pengalaman, pembekalan, dan pembelajaran selama persiapan OSCE gue. Tapi, bukan berarti setelah kalian menghapal semua poin yang gw jabarkan diatas, kalian pasti akan lancar. Soalnya OSCE itu ujian praktek bukan ujian tulis. Jadi, perlu latihan terus untuk mempraktekan setiap posnya. Terutama pos yang membutuhkan komunikasi, perlu dilatih dulu apa saja poin yang ingin disampaikan. Sekali lagi yang namanya ujian praktek itu semua hal yang tidak terduga bisa saja terjadi. Tadinya sudah hapal banget yang harus dilakukan eh tapi pas denger bunyi bel semua jadi BLANK :(( Pokoknya tetep tenang aja, gak usah buru-buru takut kehabisan waktu. 
Dan tetap fokus, jangan ada kelewatan sama sekali apa yang harus dilakukan. Pahami betul-betul jebakan tiap pos, jangan sampai terjebak! Kalau semua sudah OK dan latihan rajin latihan, maka tanpa ikut try out pun kamu sudah pasti siap mengatakan: OSCE, Siapa takut? :D


by :
v v


Buku saku tentang Pelayanan Kefarmasian ini disusun dengan tujuan untuk dapat membantu para apoteker dalam menjalankan tugas kefarmasiannya dibidang pelayanan klinis. Buku ini diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI bidang kefarmasian, atau yang sering disebut dengan Binfar (Bina Kefarmasian).

Di dalamnya memuat mengenai penyakit, tata laksana pengobatan termasuk penjelasan mengenai golongan masing-masing obat, efek samping, dosis lazim dan frekuensi pemakaian, serta peran apoteker dalam pelayanan kefarmasian terhadap penyakit tersebut.

Buku saku ini tidak menjadi satu-satunya panduan mutlak, karena ilmu pengetahuan cepat perkembang sehingga kita sebagai farmasi harus update terhadap perubahan. Beberapa guideline penyakit terus mengalami perubahan seiring berjalanannya waktu, misalnya guideline terapi untuk hipertensi tidak lagi menggunakan JNC 7 melainkan JNC 8.

Buku saku ini sangat mudah dipahami dan menyajikan informasi yang detail, terlebih lagi berbahasa Indonesia. Cocok sekali menjadi pegangan untuk mahasiswa yang sedang memperdalam farmasi dibidang klinis.
Beberapa penyakit yang diterbitkan oleh Dept. Kesehatan, antara lain :

  1. Diabetes Melitus
  2. Hipertensi
  3. Jantung Koroner
  4. Asma
  5. TBC
  6. Infeksi
  7. Malaria
  8. Arthiris
  9. Depresi

Link download dibawah ini sudah mencakup semua penyakit yang disebutkan diatas.
Klik link berikut :
Download Pelayanan Kefarmasian

Selamat belajar !
Semoga bermanfaat :)


Haloo Welcome to 2017!
Akhirnya VIWVIW hadir kembali setelah sekian lama tidak menulis lagi disini. HORE!!!
Selama tahun 2016 fenomena VLOG atau video blogger lagi booming dimana-mana. Mulai dari artis sampai orang biasapun ikut bikin VLOG. Bahkan gak sedikit blogger beralih ke video menjadi seorang vlogger. Butuh peralatan yang gak murah juga untuk menghasilkan vidoe yang bagus. Beberapa perlengkapan yang dibutuhkan seperti kamera, pencahayaan, mic, juga aplikasi video editor. Tapi aku tetap ngeblog dalam bentuk tulisan karena lebih efisien dibandingkan mengedit video yang butuh waktu lama. Dan untungnya di komunitas blog masih pada update blognya jadi bikin aku juga semangat untuk nulis lagi. YEAY

Sekarang aku mau bahas juga yang lagi booming nih di dunia maya. Apa ya? Kamu yang suka jual-beli pasti tau nih yang namanya Online Shop. Tapi kalau SHOPEE udah pernah denger belum? SHOPEE merupakan aplikasi jual-beli, dimana pengguna (user) SHOPEE dapat menjadi pembeli maupun penjual. Bisa dibilang sejenis dengan tokopedia, olx, bukalapak, dll. Dulu awalnya SHOPEE hanya aplikasi berbasis mobile, tapi sekarang sudah bisa dibuka di website.

Keunggulan SHOPEE yang menggiurkan semua pembeli adalah FREE ONGKIR *syarat dan ketentuan berlaku. Haha. Awalnya SHOPEE menggratiskan ongkir untuk pembelian minimal Rp. 30.000 dengan subsidisi maksimal Rp80.000. Tapi setiap bulannya akan berubah, ongkir minimal semakin tinggi dan subsidisi yang ditanggung semakin kecil. Ya, namanya juga promosi, gak mungkin berlangsung selamanya. Bayangkan aja aku pernah ngirim lip tint yang harganya Rp.40.000 tapi ongkirnya Rp. 72.000. Miris banget, kasian si SHOPEE. Tapi promosi kayak begini lebih efektif sebagai apresiasi pada user yang menggunakan app mereka daripada iklan di TV yang menghabiskan banyak biaya tapi tidak meberi keuntungan apapun pada usernya.

Nah sekarang kita bahas satu-satu step nya jadi penjual di SHOPEE ya.
1. Buat akun SHOPEE dapat dilakukan via web https://shopee.co.id/ atau mobile android dengan download app di playstore namanya SHOPEE. Pendaftaran dapat menggunakan nomor telepon / email / facebook.

2. Daftar dulu program free ongkir. Caranya temukan gambar banner yang bertuliskan Gratis Ongkir dihalaman pertama SHOPEE.
Tunggu sekitar 2 hari untuk mendapatkan ikon truk hijau bertuliskan Free disetiap produk kamu yang artinya produk kamu sudah free ongkir. Pendaftaran free ongkir hanya sekali saja tidak harus per produk. Ongkir yang ditanggung SHOPEE hanya 1 kg, jika lebih maka ditanggung pembeli. Untuk subsidi ongkir yang diberikan SHOPEE berbeda-beda setiap waktunya. Untuk saat ini dari 1 Des- 31 Jan 2017 yang ditanggung hanya Rp. 30.000, kalo lebih ditanggung pembeli, bukan penjual.

3. Setelah itu ke pengaturan/setting. Kalo pake web ke link ini https://seller.shopee.co.id -> setting. Lalu muncul tampilan seperti gambar dibawah ini, ada beberapa menu. Pada menu profil toko, buat profil toko kamu. Mulai dari foto profil, foto banner, nama toko, deskripsi toko maupun deskripsi gambar. Untuk nama toko gak harus sama dengan username akun. Kalau akun, gak bisa diubah dan akan menjadi link kamu misal https://shopee.co.id/shirvij5. Sedangkan nama toko bisa diubah setiap saat. Tapi sebaiknya jangan diubah-ubah kalau toko kamu sudah banyak pembeli dan dikenal orang banyak.


4. Pilih jenis jasa pengiriman dan berat barang pada option jasa kirim ku -> aktifkan JNE REG / OKE. Kalo kamu aktifkan dua-duanya, pembeli dapat memilih ingin menggunakan REG atau OKE saat pembelian. Tapi kalo kamu mengirimkan barang tidak sesuai dengan pilihan pembeli maka SHOPEE tidak akan menanggung ongkirnya. Jadi sebaiknya aktifkan salah satu saja biar pas pengiriman gak perlu ngecek lagi pembeli milih REG atau OKE. Bedanya OKE lebih murah karena pengiriman lebih lama sedangkan REG sebaliknya. Berat produk dapat kamu ubah saat memasukkan produk satu-persatu. Sebaiknya berat produk isikan yang sesuai dengan berat produk yang sebenarnya karena berat akan dikalikan dengan jumlah produk. Jadi kalau pembeli beli banyak, ongkir yang dibayarkan juga banyak. Kalo lebih dari sekilo maka akan ditanggung pembeli, besar kemungkinan pembeli tidak jadi beli karena harus bayar ongkir.

5. Masukkan nomor rekening bank yang aktif karena uang penjualan otomatis di transfer ke nomor rekening yang kamu input.

6. Isi alamat rumah mu dan alamat toko. Kalo alamat rumah itu untuk alamat pengiriman produk yang kamu beli. Sedangkan alamat toko itu alamat asal pengiriman produk kamu sebagai penjual ke pembeli. 

7. Saatnya upload produk jualan kamu di halaman depan :


SELESAI
Kamu sudah punya toko online ! :)
Untuk panduan tingkat selanjutnya akan dibahas di post yang akan datang.
Pantangin terus VIWVIW ya!





Berikut ini pembahasan dari soal praktikum comdis berdasarkan pengalaman gue. Kalo yang belum tau comdis itu apa sini gue jelasin dulu. Jadi comdis adalah singkatan dari Compounding dan Dispensing. Aturan mainnya :

  1. Sebelum praktikum, kita 1 angkatan disuruh bikin soal sebanyak 60 soal untuk persediaan soal pretest selama comdis. Jadi soal yang dikeluarkan itu adalah soal yang kita bikin berdasarkan tema penyakit yang dijadwalkan.
  2. Masuk ruang comdis, pretes, kalo nilainya kurang dari 70, lo dikasih hukuman bikin Guideline.
  3. Mulai skrining resep, ini tahap yang menentukan nasib lo apakah akan tereliminasi atau lanjut.
  4. Kalo lolos (tergantung dosen) lo akan lanjut meracik.
  5. Selama meracik diawasi, kalo salah ditegur tapi gak dikeluarkan kok. Asistennya gak bakal tega haha.
  6. Post test sama dosen, biasanya ditanya terkait peracikan, copy resep, etiket, dan permasalahan skrining resep.


Inti dari comdis itu lo harus lolos 5x  dari total 11x. Jadi, gunakan kesempatan lo sebaik mungkin, kalo dihitung2 lo punya kesempatan 6x untuk gak lolos.

Sekarang masuk pembekalan dan tips buat lo yang akan praktikum comdis. Ini berlaku secara umum, tapi gak menutup kemungkinan beda dosen beda presepsi haha. Semoga dengan adanya tulisan gue ini, lo pada banyak yang lolos ya, terlepas Lab. bawah atau atas. Oke check it out!

Minggu Pencernaan :
Kasusnya pasien diare, demam 39 derajat, anak-anak. Nah, pertama kali lu harus tentuin dulu itu diare spesifik (penyebabnya bakteri) atau non-spesifik. Diare spesifik itu ciri2nya pasien mengalami demam atau diare berlendir/berdarah jadi gak harus keduanya. Karena pasien di kasusnya demam berarti diare spesifik maka obatnya antibiotik. Kalo pas S1, kita didoktrin haram hukumnya pake antibiotik kecuali bener-bener harus, tapi kalo di comdis kita harus positif thinking dengan resep bahwa pasti ada sebabnya dokter ngasih antibiotik.
Jebakannya : 
1. Ada obat antibiotik sama antimotilitas. Nah, kalo diare karena bakteri berarti obatnya antibiotik untuk memusnahkan bakteri itu. JANGAN pake antimotilitas (imodium, dl)  karena obat ini fungsinya menahan gerakan usus sehingga bakteri tidak keluar tubuh justru tertahan di dalam tubuh. 
2. Dikasih oralit, apalagi anak-anak, karena sangat bahaya kalo anak kekurangan cairan. Bisa juga ditambah suplemen Zn yang berperan sebagai co-enzim, fungsinya yaitu dapat mengurangi frekuensi diare serta penambah nafsu makan. Penggunaan Zn harus selama 10 hari.
3. Karena kasusnya pasien anak-anak, jadi antibiotik Tetrasiklin harus DIGANTI dengan antibiotik lain yang tidak kontraindikasi dengan anak misal kotrimoksazol. Karena tetrasiklin itu dapat menyebabkan gigi kuning pada anak dan remaja.
4. Durasi pemberian antibiotik minimal 5 atau 7 atau 14 hari (kalo gak ada sumber pemakaian berapa hari maka ambil salah satunya). Jadi kalo kurang dari itu, jumlah obatnya ditambah.
5. Antibiotik sama obat selain antibiotik harus DIPISAH artinya gak boleh diracik bareng karena antibiotik harus dihabiskan sedangkan obat lain biasanya sprn (jika perlu).
6. Fenobarbital pada anak sebenarnya tidak terlalu perlu, tapi boleh kalo mau dipake. Fungsinya sebagai penenang. Fenobarbital-Na tidak stabil dalam air jadi ga boleh diracik jadi sediaan sirup, kalo fenobarbital doang boleh tapi sifatnya gak larut jadi diracik dalam bentuk suspensi.

Minggu Saraf :
Kasusnya pasien epilepsi, pingsan, dengkul berdarah karena jatuh, konsumsi obat TBC. Jebakannya :
1. Obatnya cukup dipilih salah satu aja tergantung tahapan epilepsinya (lihat guideline). Kalo di kasus gue itu gak ada jebakan, yang jadi masalah cuma durasi penggunaan antibiotik.
2. Obat epilepsi pada resep berinteraksi dengan antibiotik dan obat TBC. Padahal kalo dilihat di DIF (drug interaction fact) itu solusinya cukup monitoring saja, jadi gak perlu diganti obatnya. Gara-gara kami ganti obat jadi dikeluarkan semua hahaha.

Minggu Hormon :
Kasusnya pasien dismenore. Ingat, kalo tema comdis hari itu hormon berarti apapun yang terjadi JANGAN dihapus obat hormonya meskipun harusnya gak perlu dikasih hormon.
Jebakannya :
1. Obat hormon diresep cuma diberikan 2 tablet itu SALAH. Harusnya minimal 2-3 siklus menstruasi jadi sekitar 28 tablet.
2. Voltaren SR itu artinya sustained release atau lepas lambat, jadi dosisnya LEBIH KECIL daripada Votaren biasa karena durasi efikasi obatnya panjang. Jadi yang tadinya 3xsehari diganti jadi 1x sehari atau sesuai dengan sumber.

Minggu Kardio 1 :
Pasien hipertensi menderita batuk. Nah ini jebakannya :
1. Jadi kalo pasiennya minum obat captropil terus muncul batuk kering maka dihentikan atau jangan berikan captopril. Sedangkan untuk batuknya tidak usah dikasih obat karena asumsinya batuk akan berhenti kalo aptoprilnya berhenti.
2. Ingat, kalo pasien batuk berdahak berarti bukan karena efek samping captropil. Jadi gak masalah captropil tetap digunakan. Tapi diberi obat ekspektoran.
3. Di resep juga ada peracikan vitamin, nah jangan lupa dtd karena dosisnya under. Kalo males ngeracik bisa aja obatnya diserahkan dalam bentuk tablet tapi kan obatnya banyak sehingga menimbulkan masalah terhadap kepatuhan atau kemudahan pasien meminum obat sebanyak itu.
4. Perhitungan obat batuk OBH yang ditambah dengan obat lain. Perhatikan BJ sirup 1,3 g/ml kalo berat sirupnya >1/6 total obat. Terus kalo mau ngubah CTM (mg) ke ml berarti dibagi BJ 1000 mg/ml.
5. Penggunaan obat voltaren (H2 antagonis) cukup maksimal 2x sehari karena berisiko pendarahan lambung. Tetapi menyesuaikan indikasi, karna masing-masing indikasi punya aturan sendiri (cek DIH).

Minggu Kardio 2 :
Pasien orang tua menderita hipertensi,kolestrol, asam urat, insomnia. Jebakannya :
1. Frekuensi penggunaan obat hipertensi diperhatikan, ada golongan tertentu yang 1xsehari.
2. Pasien susah tidur, diresep diberi obat diazepam. Nah perhatikan pengunaan obatnya, terutama untuk lansia seharusnya frekuensi penggunaannya dikurangi karena efek buruknya pasien bisa tidur tapi gak bangun2 alias meninggal.

Minggu Sal. napas :
1. Peracikan obat kurang dtd perhatikan soalnya underdose.
2.Penggunan sirup disesuaikan dengan dosis lazimnya termasuk frekuensi penggunaan dan banyaknya ml sendok sekali minum.
3. Ingat anak-anak tidak bisa menelan jadi obatnya dibuat pulveres kalo diresepnya kapsul atau tablet.

Minggu Infeksi 1 :
Kasus diare spesfiik. pPdahal kasusnya udah pernah keluar di minggu pertama tapi ternyata muncul lagi di minggu infeksi. Jebakannya :
1. Pokoknya kalo pasiennya diare karena bakteri berarti jangan diberi obat antimotilitas kayak imodium atau loperamid.
2. Frekuensi penggunaan antibiotik lihat literatur.
3. Antibiotik dipisah dari racikan obat lain karena antibiotik harus diminum sampai habis.
4. Zn dipersible fungsinya selain penambah nafsu makan, juga dapat mengurangi frekuensi diare sehingga tetap diberikan pada anak dan dewasa. Ingat, jangka waktu penggunaan Zn adalah 10 hari. Ada interaksi juga dengan antibiotik Cipro, penyelesaiannya jangan diminum bersamaan.
5. Peracikan dikasih dtd karena underdose.
6. Jangan lupa diberi oralit kalo di resepnya gak ada. Ini penting bgt soalnya kalo ga dikasih oralit kamu akan dipulangkan haha.
7. Obat anti muntah metoklopramid tidak dianjurkan untuk pasien anak2 karena berefek gangguan extrapiramid jadi direkomendasikan diganti dengan domperidon.

Minggu Kulit :
1. Perhatikan det dari salepnya, kalo di resep ada tulisan -det 5- berarti sudah diambil 5 gram dari total resepnya.
2. Di resepnya itu ada 2 obat kortikosteroid, harus dipilih salah satu, terserah yang mana. Terus perhitungannya dihitung berdasarkan total salep sebelum dikurangi salah satu kortikosteroidnya.
3. Kalo ada obat anti jamur sama kortikosteroid, sebenarnya gak boleh diracik menjadi satu tapi ada juga jurnal yang menyebutkan tidak apa-apa asal penggunaannya tidak dalam waktu panjang kalo gak salah.

Kamu bisa cari jurnalnya sebagai bahan bukti untuk membela keputusan yang kamu ambil pada saat skrining resep.

Udah segitu aja? Tunggu duu, masih ada lanjutannya jadi keep walking blog viwviw ya!


Konstipasi merupakan kondisi saat frekuensi buang air besar (BAB) atau defekasi kurang dari 3x seminggu, normalnya 2-3x sehari. Konstipasi berupa keluhan tinja yang keras, mengejan pada saat defekasi, atau perasaan kurang puas setelah defekasi. Hal ini disebabkan oleh akumulasi atau kompaksi isi usus menyebabkan isi usus mengeras sehinga mengakibatkan kesulitan defekasi.


Penyebab : dehidrasi, kurang berolahraga, kebiasaan menunda defekasi, obat-obatan, sering terjadi pada lansia.

Terapi non-farmakologi :
  • Konsumsi makanan yang tinggi serat seperti buah-buahan, sayuran, dan sereal.
  • Olahraga teratur dan aktif fisik.
  • Minum air putih minimal 8-12 gelas per hari.
  • Biasakan defekasi sesudah bangun tidur.
  • Konsumsi makanan yang memiliki efek laksatif (yogurt, prune, dll).
  • Hindari makanan yang terlalu berlemak.
  • Latihan otot rektum.
  • Hindari minum susu sapi dalam jumlah banyak.
Terapi farmakologi :
1. Pembentuk massa.
Meningkatkan volume isi usus sehingga dapat menstimulasi gerak peristaltik. Contoh obat : Isphagula, selulosa, dll. Sediaan ini mengembang bila kena air.

2. Laksatif osmotik
Meningkatkan massa di usus dengan cara menahan air melalui osmosis. Contoh obat : laktulosa, sorbitol, dll. Dapat melunakkan feses 1-3 hari. Sebaiknya dikonsumsi dengan minimal 1 gelas air minum dan tidak boleh digunakan sebelum tidur. Penggunaan laktulosa sebagai senyawa alternatif untuk konstipasi akut dan bermanfaat pada pasien usia lanjut. Namun efek sampingnya dapat menghasilkan pembentukan gas dalam jumlah berlebihan. Laktulosa merupakan terapi pilihan konstipasi untuk ibu hamil dan anak-anak.

3. Stimulant
Meningkatkan motilitas dengan kerja di mukosa atau saraf plexus sehingga memicu kontraksi usus. Contoh : bisakodil, glyserol, senna, fenolftalein, docusate, antrakinon (sennoside, casatrol, dll).Efek muncul setelah 6-12 jam obat diberikan. Baik digunakan pada malam hari sebelum tidur untuk menghasilkan efek defekasi pada pagi hari. Jika menginginkan efek yang lebih cepat, gunakan suppositoria (lewat anus).  Obat tidak boleh diberikan selama lebih dari 1 minggu karena dapat menyebabkan kram perut, diare, kehilangan cairan dan elektrolit. Efek samping fenolftalein dapat menimbulkan urine bewarna merah jambu. Hindari untuk wanita hamil, anak, penggunaan bersamaan dengan antasida dan susu. 

4. Pelunas feses
Melunakkan feses dengan mekanisme lubrikan dan emolien. Emolien bekerja dengan cara meningkatkan sekresi air dan elektrolit di usus kecil dan usus besar. Bekerja dengan cara menghambat absorpsi air dalam kolon sehinga meningkatkan berat feses, contoh obat : minyak mineral. Menghasilkan feses yang lunak dalam 1-3 hari sehingga banyak digunakan untuk mencegah konstipasi. 


SUMBER : ISO Farmakoterapi, MIMS 2013/2014, dan ISO 2010/2011.


Suatu kondisi dimana frekuensi buang air besar lebih dari 3x sehari dengan konsistensi tinja yang lembek sampai cair.
Diare akut jika < 3 hari
Diare kronis jika > 2 minggu

Penyebab diare : Stres, makanan yang tidak bersih, kosekuensi penyakit, obat-obat tertentu, perjalanan, dll.

Mekanisme penyebab diare :
1. Diare sekretori : meningkatkan sekresi atau menurunkan absropsi air dan elektrolit dalam jum. besar.
2. Diare osmotik : subtansi yang sulit diabsorbsi dapat menahan cairan intestinal.
3. Diare eksudat : oleh penyakit infeksi saluran pencernaan yang mengeluarkan mukus, protein atau darah ke usus besar.
4. Motilitas usus : mempercepat gerakan usus halus dan pengosongan usus besar serta pertumbuhan bakteri yang berlebih.

Terapi non-farmakologi :
Hindari penyebaran penyakit ini. Cucilah tangan setelah buang air besar, sebelum makan atau selama menyiapkan makanan.
Berikan makanan yang rendah serat, cukup energi, protein, vitamin dan mineral.
Tetap mengkonsumsi makanan lunak dan bergizi.
Untuk anak-anak berikan cairan elektrolit dan cairan rehidrasi.
Suhu makanan dan minuman yang diberikan sebaiknya dalam keadaan hangat, tidak panas atau terlalu dingin.
ASI mengandung banyak substansi yang memelihara pencernaan dan melawan bakteri. Adanya bukti yang kuat menunjukkan bahwa ASI memberikan manfaat yang besar bagi anak - anak dengan diare akut.
Pisang, nasi, jus apel, dan roti panggang direkomendasikan selama bertahun-tahun. Bagaimanapun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa diet ini bermanfaat, dan sedikit kandungan protein di dalamnya mungkin dikontraindikasikan. Karena itu, diet tersebut tidak direkomendasikan.
Hindari soda atau minuman lain dengan kadar glukosa tinggi karena gula akan menyerap cairan ke dalam usus sehingga memperburuk keadaan.
Anak-anak mungkin mengalami intoleransi laktosa (tidak mampu mencerna gula susu) selama beberapa waktu setelah diare. Dalam hal ini, kenalkan kembali dengan susu secara bertahap.

Terapi farmakologi :
Penggunaan antibiotik hanya untuk pemeriksaan lab yang menunjukkan adanya bakteri biasanya ditandai dengan feses yang berlendir dan berdarah.

1. Oralit
Pengganti cairan tubuh, terutama pada anak balita apalagi dalam keadaan dehidrasi. Komposisi oralit adalah glukosa anhidrat, NaCl, Na-sitrat dihidrat, KCl. Penggunaan dengan melarutkan oralit dalam 1 gelas (200 mL) air hangat.

2. Antimotilitas
Merupakan anti peristaltik yang menurunkan gerakan motilitas pada saluran pencernaan. Contoh obat : Loperamid, Difenoksilat, Paregorik, Tingtur Opium dan Difenoksin. Loperamid sering direkmendasikan untuk diare akut non spesifik maupun kronik. Hindari penggunaan pada anak, wanita hamil dan laktasi. Efek samping dapat menimbulkan kram abdomen.

3. Antisekretori
Menyerap zat-zat toksin yang menyebabkan sekresi elektrolit. Contoh obat : Bismut subsalisilat, Lactobasilus,dan enzim Laktase. a)Bismut subsalisilat sering digunakan untuk pengobatan atau pencegahan diare, sebagai alternatif penggunaan antibiotik. Perhatian pada pengguna yang alergi golongan salisilat, bayi dan manula. Efek samping dapat menyebabkan lidah dan tinja menjadi hitam sementara. b)Lactobasilus sebagai mikroflora yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen di usus.

4. Absorben
Mengabsorbsi toksin maupun nutrisi, obat dan getah pencernaan.  Pemberian bersama obat lain akan mengurangi absorbsinya. Digunakan untuk meringankan gejala pada diare non-spesifik, tidak direkomendasikan untuk diare akut.  Jangan gunakan lebih dari 2 hari, demam tinggi, dan anak dibawah 6 tahun. Contoh obat : Kaolin Pectin, Attapulgit dan Karboadsorben. Setiap setelah BAB.



SUMBER : ISO Farmakoterapi, ISO 2010/2011, MIMS 2013/2014, dan Kuliah Farmakoterapi.


Merupakan suatu kondisi dimana asam lambung dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada saluran pencernaan (lambung dan usus).

Penyebab : bakteri H.pylori, obat anti-inflamasi (NSAID), dan stress mucosa.

Terapi non-farmakologi :
1. Hindari pemakaian obat NSAID (aspirin, asam mefenamat, dll). Kalaupun harus mengonsumsi NSAID maka pemberian obat bersamaan dengan makanan, pada dosis yang rendah atau mengganti obat dengan NSAID selektif (celecoxib, nabumeton, dll).
2. Hindari makanan pedas, mengandung asam, kafein, alkohol, rokok karena dapat meningkatkan kadar asam lambung.
3. Makanlah dalam jumlah sedang dan sering, jangan dalam jumlah banyak sekaligus.

Terapi farmakologi :
1. Antasida
Menetrakan asam lambung. Paling baik diberikan ketika gejala-gejala muncul atau diperkirakan akan muncul, penggunaan sesudah makan (1-2 jam) dan sebelum tidur, 4 x sehari atau lebih. Perhatian pada penderita gagal ginjal, jantung, dan kehamilan. Penggunaan antasida dengan obat lain dapat mengurangi absorpsi obat lain jadi jangan diminum bersamaan. Contoh obat : kombinasi AlOH+MgOH, Na-bikarbonat, Bismut+Ca, dan Mg-trisilikat.

2. Antagonis reseptor H-2.
Mengurangi sekresi asam lambung dengan menghambat reseptor H-2. Penggunaan obat bersamaan dengan makanan dan menjelang tidur. Perhatian pada kehamilan, laktasi dan anak. Contoh obat : Simetidin, Famotidin, Ranitidin. Untuk Famotidin dan Ranitidin tidak dianjurkan pada anak.

3. Sukralfat.
Melindungi mukosa dari pepsin asam. Merupakan kompleks Al(OH) dan sukrosa sulfat. Perhatian pada kehamilan, laktasi dan anak. Penggunaan pada saat perut kosong (1 jam sebelum makan) dan sebelum tidur. Jika diberikan bersamaan dengan terasiklin dapat mengurangi absorpsi tetrasiklin. Apabila penggunaan dengan antasida, maka antasida digunakan 1-1/2 jam selang pemberian sukralfat.

4. Misoprostol.
Analog prostaglandin yang memiliki sifat antisekresi dan proteksi, dapat mencegah terjadinya tukak karena NSAID. Efek samping dapat menyebabkan diare parah, tidak boleh digunakan pada wanita usia subur dan hamil, dapat disalahgunakan sebagai obat keguguran.

5. Pompa Proton Inhibitor (PPI).
Menghambat asam lambung dari sel parietal lambung. Pengobatan jangka pendek yang efektif untuk tukak peptik. Perhatian pada penyakit hati, kehamilan dan menyusui. Penggunaan segera sebelum makan (15-30 menit). Baik untuk penekan asam yang kuat saat penggunaan NSAID. Efektif untuk pengobatan akibat H.pylori bersamaan dengan klaritromisin+metrodinazol. Contoh obat : Omeprazol, Lansoprazol, Pantoprazol.



SUMBER : ISO Farmakoterapi, ISO 2010/2011, dan MIMS 2013/2014.